Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 18 April 2014


"Engkau dahulu bisa menang, karena waktu itu engkau keluar rumah untuk Allah, demi Allah. Andaikata kukumpulkan seluruh bala tentaraku mengeroyokmu sekalipun, aku takkan mampu mengalahkanmu. Sekarang kamu keluar dari rumah hanya karena tidak ada uang di bawah tikar sajadahmu. Maka biarpun kau keluarkan seluruh kemampuanmu, tidak mungkin kamu mampu menjatuhkan aku," jawab iblis dengan angkuh.


Assalamu alaikum warohmatullah wabarokatuuh,,,

Saudara-saudariku,

Dahulu kala hiduplah sepasang suami istri yang hidup dalam keadaan serba kekurangan. Suami istri itu hidup tenteram mula-mula. Meskipun melarat, mereka taat kepada perintah Tuhan. Segala yang dilarang Allah dihindari, dan ibadah mereka tekun sekali. 

Si Suami adalah seorang yang alim yang taqwa dan tawakkal. Tetapi sudah beberapa lama istrinya mengeluh terhadap kemiskinan yang tiada habis-habisnya itu. Ia memaksa suaminya agar mencari jalan keluar. Ia membayangkan alangkah senangnya hidup jika segala-galanya serba cukup. 

Pada suatu hari, lelaki yang alim itu berangkat ke ibu kota, mau mencari pekerjaan. Di tengah perjalanan dia melihat sebatang pohon besar yang tengah dikerumuni orang. Ia mendekat. Ternyata orang-orang itu sedang memuja-muja pohon yang konon keramat dan sakti itu. Banyak juga kaum wanita dan pedagang-pedagang yang meminta-minta agar suami mereka setia atau dagangnya laris. "Ini syirik," pikir pria yang alim tadi. "Ini harus diberantas habis. Masyarakat tidak bisa dibiarkan menyembah dan meminta selain Allah." 

Maka pulanglah dia dengan terburu-buru. Istrinya heran, mengapa secepat itu suaminya kembali. Lebih heran lagi waktu dilihatnya si suami mengambil sebilah kapak yang diasahnya tajam. Lantas pria alim tadi bergegas keluar. Istrinya bertanya tetapi ia tidak menjawab. Segera dinaiki keledainya dan dipacu cepat-cepat ke pohon itu. Sebelum sampai di tempat pohon itu berdiri, tiba-tiba melompat sesosok tubuh tinggi besar dan hitam. Dia adalah iblis laknatullah yang menyerupai manusia.

"Hai, mau ke mana kamu?" tanya si iblis laknatullah.

Orang alim tersebut menjawab, "Saya mau menuju ke pohon yang disembah-sembah orang bagaikan menyembah Allah SWT. Saya sudah berjanji kepada Allah akan menebang roboh pohon syirik itu."

"Kamu tidak ada hubungan apa-apa dengan pohon itu. Yang penting kamu tidak ikut-ikutan syirik seperti mereka. Sudah pulang saja." kata si Iblis.

"Tidak bisa, kemungkaran harus diberantas," jawab si alim bersikap tegas.

"Berhenti, jangan lanjutkan!" bentak iblis laknatullah marah.

"Akan saya teruskan!" sanggah lelaki alim terserbut.

Karena masing-masing tegas pada pendirian, akhirnya terjadilah perkelahian antara orang alim tadi dengan iblis laknatullah. Kalau melihat perbedaan badannya, seharusnya orang alim itu dengan mudah bisa dibinasakan. Namun ternyata iblis laknatullah menyerah, meminta-minta ampun.

Kemudian dengan berdiri menahan kesakitan dia berkata, "Tuan, maafkanlah kekasaran saya. Saya tak akan berani mengancam tuan. Sekarang pulanglah. Saya berjanji, setiap pagi, saat Tuan selesai menunaikan shalat Subuh, di bawah tikar sembahyang Tuan saya sediakan uang emas empat dinar . Pulang saja berburu, jangan teruskan niat Tuan itu dulu," 

Mendengar janji iblis laknatullah dengan uang emas empat dinar itu, lunturlah kekerasan tekad si alim tadi. Ia teringat istrinya yang hidup kekurangan. Ia teringat akan keluhan istrinya saban hari. Setiap pagi empat dinar, dalam sebulan saja dia sudah bisa menjadi orang kaya. Mengingatkan desakan-desakan istrinya maka pulanglah dia. Patah niatnya semula hendak memberantas kemungkaran.

Demikianlah, semenjak pagi itu istrinya tidak pernah marah-marah lagi. Hari pertama, ketika si alim selesai shalat, dibukanya tikar sembahyangnya. Betul di situ tergolek empat benda berkilat, empat dinar uang emas. Dia meloncat riang, istrinya gembira. Begitu juga hari yang kedua. Empat dinar emas. Ketika pada hari yang ketiga, matahari mulai terbit dan dia membuka tikar sembahyang, masih didapatinya uang itu. Tapi pada hari keempat dia mulai kecewa. Di bawah tikar sembahyangnya tidak ada apa-apa lagi keculai tikar pandan yang rapuh.

Istrinya mulai marah karena uang yang kemarin sudah dihabiskan sama sekali. Si alim dengan lesu menjawab, "Jangan khawatir, esok barangkali kita bakal dapat delapan dinar sekaligus." 

Keesokkan harinya, harap-harap cemas suami-isteri itu bangun pagi-pagi. Selesai shalat dibuka tikar sajadahnya kosong. "Kurang ajar. Penipu," teriak si istri. "Ambil kampak, tebanglah pohon itu." kata si istri. "Ya, memang dia telah menipuku. Akan aku habiskan pohon itu semuanya sampai ke ranting dan daun-daunnya," sahut si alim itu.

Maka segera ia mengeluarkan keledainya. Sambil membawa kapak yang tajam dia memacu keledainya menuju ke arah pohon yang syirik itu. Di tengah jalan iblis laknatullah yang berbadan tinggi besar tersebut sudah menghalang. Katanya menyorot tajam, "Mau ke mana kamu?" hardiknya menggelegar.

"Mau menebang pohon," jawab si alim dengan gagah berani.

"Berhenti, jangan lanjutkan." larang si iblis laknatullah.

"Bagaimanapun juga tidak bisa, sebelum pohon itu tumbang." jawab pria itu.

Maka terjadilah kembali perkelahian yang hebat. Tetapi kali ini bukan iblis laknatullah yang kalah, tapi si alim yang terkulai. Dalam kesakitan, si alim tadi bertanya penuh heran, "Dengan kekuatan apa engkau dapat mengalahkan saya, padahal dulu engkau tidak berdaya sama sekali?" 

Iblis laknatullah itu dengan angkuh menjawab, "Tentu saja engkau dahulu bisa menang, karena waktu itu engkau keluar rumah untuk Allah, demi Allah. Andaikata kukumpulkan seluruh bala tentaraku mengeroyokmu sekalipun, aku takkan mampu mengalahkanmu. Sekarang kamu keluar dari rumah hanya karena tidak ada uang di bawah tikar sajadahmu. Maka biarpun kau keluarkan seluruh kemampuanmu, tidak mungkin kamu mampu menjatuhkan aku. Pulang saja. Kalau tidak, kupatahkan nanti batang lehermu. " 

Mendengar penjelasan iblis laknatullah ini si alim tadi tertegun. Ia merasa bersalah, dan niatnya memang sudah tidak ikhlas karena Allah lagi. Dengan terhuyung-huyung ia pulang ke rumahnya. Dibatalkan niat semula untuk menebang pohon itu. Ia sadar bahwa perjuangannya yang sekarang adalah tanpa keikhlasan karena Allah, dan ia sadar perjuangan yang seperti itu tidak akan menghasilkan apa-apa selain dari kesiaan yang berlanjut. Sebab tujuannya adalah karena harta, mengatasi keutamaan Allah dan agama. Bukankah berarti ia menyalahgunakan agama untuk kepentingan hawa nafsu semata-mata?

"Barangsiapa di antaramu melihat sesuatu kemungkaran, hendaklah (berusaha) memperbaikinya dengan tangannya (kekuasaan), bila tidak mungkin harus berusaha memperbaikinya dengan lidahnya (nasihat), bila tidak mungkin pula, harus mengingkari dengan hatinya (tinggalkan). Itulah selemah-lemah iman. " HR. Muslim

0 komentar:

Posting Komentar